Jumat, 05 September 2014

Kiat Mengatasi Malas dan Beban Puasa Sunnah

Salah satu hal yang membuat puasa diluar bulan ramadhan terasa lebih menantang adalah karena kita puasa sendiri sementara orang lain bisa makan. Selain itu tidak adanya unsur kewajiban membuat kita tergoda untuk bisa membatalkannya kapan saja kita mau.

Jadi manusia itu sulit, kalau wajib dia berat kalau sunnah dia malas. Kalau mubah dia senang, contohnya nikah hahahaha. Untungnya kita diberi akal untuk memecahkan berbagai masalah yang kita hadapi. Tinggal kita mau atau tidak menggunakan akal itu. Tapi sebelum menggunakannya tentu kita harus menyadari atau setidaknya mengakui adanya masalah.

Masalah kita dengan berpuasa sebenarnya sangat pribadi atau berbeda-beda. Sebagai penulis artikel ini saya akan berbagi pengalaman saya. Saya akan jujur sejujur jujurnya karena tidak akan ada manfaatnya kalau saya tidak bicara jujur. Ingat, langkah pertama dalam memecahkan masalah adalah mengakui dulu masalah itu ada.

Tipikal pecandu kopi

Saya sangat menyukai kopi. Terutama sekali saya sangat menyukai harum dan lezat nya kopi di pagi hari. Saya biasa minum kopi pada jam 7 sampai 8 pagi satu atau dua cangkir. Saya merasa mahir meracik kopi sebagaimana kopi yang diracik barista di kedai kopi profesional, tapi dengan bahan bahan di sekitar kita, bukannya bahan bahan mahal yang biasa mereka pakai. Jadi anda bisa membayangkan kegemaran saya akan kopi.

Tantangan terbesar dan pertama saya saat puasa adalah bisa saya pastikan pada jam jam 8 9 10 sampai 11 pagi saat dimana desakan untuk minum kopi saya timbul. Waktu bulan ramadhan tentu saya akan mati matian menahan diri dan melanjutkan puasa karena takut dosa. Tapi ketika puasa sunnah godaan untuk membatalkan puasa demi secangkir candu sangat besar, karena kalau tidak ingat etika kepada Tuhan saya bisa membatalkannya. Hehehe dan seringkali saya tidak ingat.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengalihkan desakan tersebut yang dalam bahasa inggris disebut craving. Kata sebuah blog, nanti saya pastekan linknya, kita bisa

1 berjalan keluar menghirup udara segar.

2 menulis sesuatu, misalnya blog, catatan harian, ucapan penghargaan atas seseorang, hal hal yang perlu kita syukuri dengan hidup yang selama ini kita abaikan, atau apapun yang kita suka.

3 bercanda dengan binatang kesayangan.

4 ngobrol dengan teman atau keluarga, bergosip ringan.

5 tidur saja.

6 makan makanan bernutrisi, jangan makan terlalu banyak tepung tepungan dan gula karena itu akan semakin mendorong keinginan kita untuk mengudap makanan dan minuman manis. (mungkin maksudnya pas sahur ya?)

7 Lakukan hal menarik lainnya yang membuat otak anda bergairah seperti mendengarkan musik, bernyanyi, main musik, menonton film, pokoknya hal hal asik tapi tidak terkait dengan cemilan atau makanan dan minuman manis.

8 berolahraga hehehe mungkin tidak ya

9 melakukan hobi, membuat rencana kerja walaupun cuma sekedar rencana, tapi intinya adalah melakukan hal hal yang membuat pikiran kita teralihkan dari bayang bayang camilan/minuman candu kita.

10 jika semua hal diatas tidak berhasil, cara ke 10 ini berhasil bagi saya. Yaitu antisipasi. Sejak habis sahur saya akan mengantisipasi datangnya jam jam sulit alias jam jam nagih. Saya bersiap siap dan menanti jam itu datang, bukannya terseret waktu dan tersiksa dengan desakan minum kopi ketika jam itu datang. Jadi bersiaplah menghadapi musuh. Sekecil apapun musuh jika tidak diantisipasi dia bisa menyergap dan mengalahkan kita.

Saat saya menulis artikel ini saya juga sedang berpuasa diluar bulan ramadhan. Sekarang jam 8 lebih 5 pagi hari. Pesan pertama dari perut saya, lapar. Bagi saya, tapi mungkin ini berbeda pada setiap orang, lapar tidak terlalu menjadi masalah. Waktu tidak puasa saya sering menunda atau melewatkan makan dengan secangkir kopi. And it feels just great. 

Karena saya sudah mengantisipasi dan menanti nantikan datangnya jam sulit ini, saya kini merasa di atas angin. Apa maksudnya? Saya bisa mengamati bagaimana tubuh saya menginginkan kopi dan bukannya terjebak dalam perasaan menginginkan kopi. Dua hal yang sama sekali berbeda. Yang pertama saya memegang kontrol yang kedua saya dikontrol.

Akhirnya 4 jam berlalu juga, sekarang sudah jam 12. Saat sahur tadi saya mengatakan pada diri sendiri kamu boleh berbuka habis sholat dzuhur kalau tidak kuat. Saya mengatakan ini dengan sungguh sungguh karena pikiran kita tidak bisa dibohongi oleh motivasi palsu. Dan tentu saja setelah jam 12 habis dzuhur, saya jadi semakin percaya diri untuk melanjutkan puasa, bukannya makin lemas, karena jam jam sulit saya sudah berhasil dilalui. Lagipula, kalo sudah berjalan lebih dari 50%, sayang dibuang kan? Bakda dzuhur sampai ashar saya melakukan hal-hal seperti biasanya ketika lagi nggak puasa. Kini tak ada lagi perbedaan rasa antara puasa dan tidak puasa. Kalau haus, saya katakan nanti juga minum. Kalau lapar, saya katakan nanti juga makan. 

Agar kita tidak terlalu kehausan saat puasa, ingatlah agar minum air putih yang banyak saat sahur dan malam hari. Makan cukup buah dan sayur. Biarkan tubuh menyimpan air itu dalam sel-selnya untuk digunakan membasahi diri sendiri selama masa berpuasa. Juga, hindari berpanas-panas. Cari jalan yang teduh. Kalau tidak ada cara lain menghindari panas, ya tawakkallah. Ingat, nanti juga berbuka. Atau katakan dengan jujur, kalau tidak kuat benar, benar-benar tidak kuat, boleh berbuka. Kadang kita tertipu oleh pikiran kita sendiri. Kita menyangka kita lemah, padahal cuma godaan. Kalau benar-benar disuruh berbuka paska tengah hari, mungkin kita akan merasa sayang juga. Seandainya pun kita tidak kuat, tidak apa. Ingat, dilarang membahayakan kesehatan. Kalau sudah tepar kan mahal harganya. Sekarang sampai jam 12, besok 12.30, besoknya 13.00. Pelan-pelan saja naiknya. Seperti anak SD? Biarkan. Namanya juga usaha. Daripada tidak sama sekali.

Alhasil, Alhamdulillah saya bisa menamatkan puasa hari ini. Saat adzan maghrib datang, rasanya puaaas sekali. Air putih dingin aja terasa lebih lezat dari minuman iced cappucino. Lalu rasa menang, walo mungkin kemenangan kecil. Tapi Allah sendiri mengijinkan kita merasa puas setelah puasa kok. Kepuasan pertama saat berbuka, dan kedua saat berjumpa Allah kelak. Aamiin, semoga kita semua bisa ya?

Saya akan mencoba hal ini terus sampai menjadi robot. Alias bisa berjalan dengan sendirinya. Alias telah menjadi kebiasaan.

Selamat mencoba teman teman, semoga sukses.

Kamis, 04 September 2014

Tips Mengatasi Malas Sholat

Dear all,
Pernah mengalami malas sholat? Selalu? Sering? Kadang-kadang?
Kali ini saya akan berbagi tips bagaimana mengatasi rasa malas sholat dan mengubah perilaku sholat kita menjadi lebih disiplin. Itu saja dulu. Saya tidak akan membicarakan sholat yg khusyuk, karena saya juga belum mampu. Yang penting bagaimana kita disiplin sholat dan enteng dalam melakukannya.

Oke. Kalo dari pengalaman saya, yang paling susah dalam melakukan sholat adalah pergi ke tempat sholatnya, yakni ujung sajadah. Begitu kita sampai di sana dan takbiratul, proses sholat itu akan berjalan sendiri, entah dengan khusyuk atau pikiran melayang. Pokoknya sholat.

Lalu apa yang menghalangi kita pergi ke tempat sholat? Ini bisa macam-macam tergantung pribadi masing-masing. Kalo buat saya adalah wudhu. Saya tu paling males berbasah-basah dan berbecek-becek. Apalagi kalo tempat wudhunya di kamar mandi, apalagi kamar mandi umum.

Tapi secara umum, kita paling berat melakukan sesuatu ketika sesuatu itu diwajibkan. Tul nggak? Ini dia. Saat adzan datang, kita jadi merasa wajib sholat. Halangan pertama, perasaan wajib. Kemudian untuk sholat kita wajib wudhu. Halangan kedua, bagi saya.

Jadi perlu ada strategi untuk memecah rasa wajib itu. Saya menemukan, bahwa saya akan enteng wudhu ketika tidak harus wudhu, yah, kalo sudah mau dekat waktu sholat dan saya harus ke kamar mandi untuk pii, sekalian saja saya wudhu biar tidak usah masuk-masuk kamar mandi lagi. Jadi, wudhulah sebelum anda harus wudhu. Ini membuat kita merasa siap sholat.

Habis itu, sesaat sebelum waktu adzan datang, kita sudah berdiri di ujung sajadah. Ini membuat kita seperti dalam posisi start mau sprint. Alert.

Nah ketika adzan tiba, langsung angkat takbir. Jangan tunggu apa-apa lagi. Ini memberikan perasaan menang melawan setan dan rasa memenangkan pahala sholat tepat waktu. Perasaan ini besar sekali efeknya buat sholat-sholat kita selanjutnya. Karena ada rasa kemenangan yang nagih. Selebihnya, anda sudah sholat dengan sendirinya.

Lakukan ini terus, dimanapun anda berada. Dan dalam satu dua minggu akan ada efek robotik, dimana kita melakukan semua proses di atas dengan sendirinya. Walaupun kita tidak bermaksud untuk menjadi robot dalam memenuhi panggilan Allah, tapi buat orang yang tadinya malas sholat ini penting, karena membuat kita jadi lebih effortless dalam melakukan kewajiban.

Jika sudah bisa disiplin sholatnya, langkah berikutnya adalah mencari khusyuk. Nah, ini saya belum sampai. Please share with me if you know any.

------------
Oleh Bhami